Selasa, 14 Agustus 2018 09:07:33
Home | Core Economic Reviews
Mengelola Ekonomi Domestik di Tengah Gejolak Global
Wednesday, 01 August 2018

Dalam CORE Economic Outlook 2018 yang dirilis bulan November tahun lalu, CORE telah memprediksikan bahwa ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan tumbuh 5,1 hingga 5,2%, lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,4%. Dalam perkembangan hingga semester pertama, upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun ini mendapat tantangan yang semakin berat akibat meningkatnya tekanan eksternal. Selain kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar Rupiah akibat penaikan suku bunga acuan the Fed, perang dagang yang mengalami eskalasi akhir-akhir ini menjadi tantangan baru di tahun ini.

Di dalam negeri, konsumsi swasta yang mengalami perlambatan selama hampir dua tahun sebenarnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada kuartal kedua tahun ini. Sejalan dengan membaiknya permintaan domestik, industri manufaktur juga mulai melakukan ekspansi signifikan sepanjang paruh pertama tahun ini. Meski demikian, dorongan pertumbuhan dari dalam negeri tertahan oleh gejolak global, dan dampaknya sudah terlihat dari kinerja neraca perdagangan kembali jatuh defisit di paruh pertama tahun ini, serta pergerakan nilai tukar Rupiah yang semakin liar akhir-akhir ini. Adapun investasi yang menjadi salah satu motor pertumbuhan utama juga berpotensi melambat akibat tekanan eksternal dan ketidakpastian menjelang tahun politik. Di sisi lain, pelemahan Rupiah dan kenaikan harga minyak memberikan efek positif terhadap penerimaan pemerintah, dan windfall ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui belanja yang lebih berkualitas dan pengelolaan risiko fiskal termasuk di antaranya pengelolaan utang.

Dengan mempertimbangkan gejolak eksternal dan perkembangan terakhir pada ekonomi domestik, CORE memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester pertama 2018 berada di kisaran 5,1%. Untuk pertumbuhan PDB sepanjang tahun 2018, CORE masih tetap berpegang pada prediksi semula, yakni 5,1% - 5,2%.

 

Tekanan Eksternal

Dibanding prediksi yang dilakukan pada akhir tahun lalu, prospek pertumbuhan ekonomi global tahun 2018 berdasarkan prediksi IMF pada kuartal pertama tahun ini sebenarnya lebih optimis. Estimasi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2018 meningkat dari sebelumnya hanya 3,70% (IMF, Oktober 2018) menjadi 3,94% (IMF, April 2018). Peningkatan prospek pertumbuhan ini didorong oleh membaiknya prospek pertumbuhan di negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dari 2,30% menjadi 2,93%; Uni Eropa dari 1,90% menjadi 2,52%; China dari 6,50% menjadi 6,56%, dan Jepang dari 0,70% menjadi 1,21%.

Sayangnya optimisme di awal tahun ini dihadapkan pada ancaman perang dagang yang berpotensi terus mengalami eskalasi. Kebijakan Presiden Trump menaikkan tarif baja dan aluminium terhadap produk impor dari China, direspon dengan retaliasi oleh pemerintah China yang kemudian menaikkan tarif impor automotif dan produk pertanian dari Amerika Serikat. Aksi saling balas antara Amerika Serikat dan China, jika terus berlanjut dan menular ke negara-negara lainnya, berpotensi menekan pertumbuhan perdagangan dunia dan termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Padahal bagi Indonesia, sebelum perang dagang bermula, tekanan global sudah dirasakan melalui kenaikan harga minyak dan kenaikan suku bunga the Fed yang mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah. Kenaikan harga minyak sudah bermula sejak 2016 hingga sekarang, dan secara year to date tahun ini pertumbuhan harga mencapai 16%. Akibatnya, impor migas sepanjang semester pertama mencapai USD 5,4 miliar dan ini pula yang menjadi salah satu kontributor utama pendorong defisit perdagangan yang pada semester pertama tahun ini mencapai USD 1,03 miliar.

Sementara itu, the Fed yang telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali dengan besaran 50 bps sepanjang paruh pertama 2018 telah berdampak pada depresiasi nilai mata uang sejumlah negara. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang terdepresiasi paling dalam,  dimana sampai dengan 23 Juli 2018 sudah mengalami sebesar 7,2%. Kebijakan kenaikan suku bunga BI 7 day reverse repo rate sebesar 100 bps tahun ini belum mampu meredam Rupiah dari tekanan eksternal.

Dorongan Pertumbuhan Ekonomi dari Dalam Negeri

Di tengah gejolak global, ekonomi domestik sebenarnya sudah menunjukkan sinyal perbaikan pada semester pertama tahun ini, khususnya konsumsi masyarakat. Setelah satu setengah tahun mengalami perlambatan, konsumsi rumah tangga pada kuartal kedua tahun ini menunjukkan perbaikan baik dilihat dari penjualan retail, kendaraan bermotor konsumsi, maupun indikator lainnya seperti peningkatan proporsi konsumsi pada pengeluaran  masyarakat. Penjualan retail pada kuartal kedua 2018 tumbuh sebesar 6,39%, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal pertama 2018 yang mencapai 0,72%, maupun dibandingkan dengan kuartal kedua 2017 yang mencapai 4,94%. Peningkatan penjualan terutama didorong oleh meningkatnya penjualan makanan, minuman & tembakau (10,70%), bahan bakar kendaraan bermotor (11,97%), dan perlengkapan rumah tangga lainnya (3,67%). Penjualan beberapa perusahaan retail pada momen Ramadhan dan Idul Fithri (Mei hingga Juni) tahun ini juga mengalami peningkatan dibandingkan momen yang sama tahun lalu, seperti Ramayana (5,2%, yoy) dan Hypermart (25-30%, yoy). Ini menunjukkan bahwa peningkatan penjualan retail tidak hanya dipengaruhi oleh faktor musiman menjelang Idul Fithri semata.

Penjualan kendaraan bermotor juga naik pesat sepanjang semester pertama 2018. Pertumbuhan penjualan mobil meningkat dari hanya 0,26% (semester I, 2017) menjadi 4% (semester I, 2018). Pertumbuhan penjualan sepeda motor bahkan melonjak dari

Penerbitan obligasi pemerintah Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Surat Utang Negara (SUN) telah menjadi  salah...
Rekan-rekan media,Upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun ini mendapat...