Jum`at, 19 Oktober 2018 11:28:29
Home | Artikel
Dibalik Target Pariwisata
Wednesday, 28 June 2017

Dua tahun sudah berlalu sejak pariwisata dicanangkan sebagai prioritas pemerintah. Sejalan dengan ditetapkannya target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2019, Kementerian Pariwisata selama dua tahun terakhir demikian giat menggalakkan promosi untuk menjaring sebanyak mungkin wisman ke tanah air. Target ini memang bisa dibilang ambisius, namun dapat dipahami mengingat sampai hari ini Indonesia memang masih tertinggal cukup jauh dalam menjaring turis asing dibanding negara-negara ASEAN lain. Malaysia mampu menyedot lebih dari 25 juta turis asing. Bahkan, Thailand tahun lalu berhasil menggaet lebih dari 30 juta wisman. Padahal dengan potensi dan daya tarik wisata yang sangat kaya dan beragam, Indonesia sepantasnya sanggup menarik wisman lebih banyak dibanding negara-negara jiran tersebut.

Memang, selama ini wisatawan yang mengunjungi Indonesia tidak pernah surut. Dalam dua tahun terakhir jumlah wisman bahkan tumbuh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2016 lalu, jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia mencapai 11,5 juta orang, tumbuh 10,7 persen dibanding tahun 2015. Ini merupakan angka pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2009. Pada triwulan pertama 2017, jumlah wisman yang sudah mencapai 3 juta orang, bahkan meningkat 15 persen secara year-on-year.

Selain didorong oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia khususnya negara-negara penyumbang wisman terbesar bagi Indonesia, intensitas perjalanan wisata di dunia di tahun ini juga diprediksi terus meningkat, khususnya ke negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Asia Pasifik bahkan diprediksi tumbuh dua kali lebih tinggi dibanding rata-rata dunia.

Meski demikian, dengan tingkat pertumbuhan kunjungan wisman yang masih di kisaran 10 hingga 15 persen per tahun, target jumlah kunjungan 20 juta wisman bagi Indonesia masih terlalu tinggi untuk dapat dicapai dalam waktu kurang dari tiga tahun ke depan. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan pertumbuhan rata-rata 20-25 persen per tahun hingga 2019.

Untuk mencapai target pertumbuhan yang tinggi, jelas dibutuhkan dana yang besar, selain juga strategi implementasi dan pemantauan yang jelas dan rinci. Namun dengan kebijakan fiskal ketat yang dijalankan oleh pemerintah seperti sekarang, kecil kemungkinan untuk memperoleh anggaran yang memadai untuk mendorong pariwisata Indonesia agar tumbuh lebih cepat. Penerimaan negara cenderung mengalami stagnasi, meskipun telah dijalankan program pengampunan pajak. Sementara dari sisi belanja, selain harus melakukan penghematan anggaran, pariwisata juga harus ‘berkompetisi’ dengan sektor-sektor lain yang juga menjadi prioritas pemerintah.

Alokasi anggaran untuk pariwisata dalam dua tahun terakhir memang meningkat pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2016, pemerintah mengucurkan Rp 4,2 triliun melalui Kementerian Pariwisata untuk sektor ini, jauh lebih besar lagi dibanding alokasi anggaran pariwisata tahun-tahun sebelumnya.

Namun jika dibandingkan dengan Malaysia ataupun Thailand yang anggaran untuk promosinya saja bisa mencapai US$ 200 hingga 300 juta, atau hampir 4 triliun Rupiah, anggaran pariwisata Indonesia tersebut jelas masih kerdil. Padahal luas wilayah yang membutuhkan penanganan jauh lebih besar dibandingkan negeri-negeri jiran tersebut.


Target kuantitas versus kualitas

Dalam kondisi anggaran yang terbatas, mengejar target kuantitas 20 juta wisman dalam waktu kurang dari tiga tahun, bukan hanya berisiko untuk tidak tercapai, tetapi juga berisiko mengorbankan kualitas. Kualitas yang dimaksud di sini mencakup kualitas pelayanan di daerah wisata, baik dari sisi kenyamanan dan keamanan, serta penyebaran manfaat ekonomi bagi masyarakat di daerah wisata.

Selama lebih dari dua tahun terakhir pemerintah terlalu fokus mengejar kuantitas jumlah kunjungan wisman. Anggaran pemerintah yang masih terbatas banyak tersedot untuk promosi dan iklan wisata ke luar negeri yang memakan biaya sangat besar. Promosi gencar branding “Wonderful Indonesia” di luar negeri hingga ke kota-kota besar dunia seperti New York, Paris dan London menyerap porsi anggaran pariwisata yang sangat besar.

Padahal, selain untuk promosi, anggaran yang tersedia semestinya juga dialokasikan secara memadai untuk pengembangan kualitas pelayanan dan pembenahan destinasi wisata, penyiapan masyarakat di sekitar obyek wisata, peningkatan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan, dll. Aspek-aspek pembenahan di level lokal ini tidak kalah penting dalam membangun citra positif pariwisata Indonesia. Kurangnya pembenahan kualitas pelayanan di daerah-daerah tujuan wisata justru berpotensi membuat citra pariwisata Indonesia yang sudah gencar dipromosikan menjadi tercoreng.  Sudah cukup banyak kasus dimana turis asing mendapat perlakuan yang buruk di lokasi wisata, atau bahkan ada pula yang tewas akibat kurangnya memperhatikan faktor keamanan di lokasi wisata.

Demikian pula dengan program rumah wisata yang tengah dikembangkan. Program ini membutuhkan sosialisasi dan pendekatan sosial-budaya dengan masyarakat setempat secara arif. Pendekatan partisipatif menjadi sangat penting bukan hanya agar program ini mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat dan menghindari terjadinya konflik kepentingan dengan penduduk setempat, tetapi juga memastikan bahwa manfaat dari program ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat di sekitar obyek wisata.

Multiplier effect terhadap ekonomi daerah dari investasi yang ditanamkan di sektor pariwisata juga perlu lebih mendapat perhatian. Upaya menggalakkan investasi asing melalui Paket Kebijakan ke-10 telah membuka peluang sebesar-besarnya bagi investor asing untuk masuk di sektor pariwisata. Pada 2016 lalu, jumlah proyek penanaman modal asing meningkat enam kali lipat dibanding tahun 2014, dari 341 menjadi 2026 proyek, sementara nilai investasinya meningkat dari 455 juta menjadi 888 juta Dolar AS. Sayangnya, penanaman modal dalam negeri justru mengalami penurunan dari Rp 1,73 Triliun di tahun 2014 menjadi Rp 1,56 Triliun Rupiah di tahun 2016, meskipun jumlah proyeknya meningkat dari 43 menjadi 368 proyek.

Meskipun investasi sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pelayanan wisata, pelibatan masyarakat setempat, termasuk usaha mikro, kecil dan menengah, harus menjadi bagian dari target capaian pembangunan pariwisata. Masyarakat selayaknya turut menikmati manfaat dari berkembangnya pariwisata di daerahnya. Masuknya investor dari luar jangan sampai membatasi kesempatan masyarakat lokal untuk menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat utama (main beneficiaries) dari pembangunan sektor pariwisata.

Tanpa ada keseimbangan antara upaya untuk mengejar kuantitas dengan memperbaiki kualitas, semakin dikenalnya pariwisata Indonesia di mancanegara tetap akan meninggalkan sejumlah catatan buruk bagi orang asing yang sudah mengunjungi Indonesia. Meningkatnya jumlah turis juga hanya akan lebih banyak menguntungkan segelintir kelompok pemilik modal, sementara dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal sangat minimal. Jika demikian, target 20 juta wisman, kalaupun dapat dicapai, hanyalah sebuah capaian semu.

 

Penerbitan obligasi pemerintah Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Surat Utang Negara (SUN) telah menjadi  salah...
Rekan-rekan media,Upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun ini mendapat...